https://ejurnal.uwp.ac.id/gesi/index.php/jurnalgesi/issue/feed Journal of Gender Equality and Social Inclusion (gesi) 2026-04-13T00:00:00-07:00 Nur Irmayanti [email protected] Open Journal Systems <p>Jurnal Gender Equality and Social Inclusion (GESI) adalah jurnal ilmiah yang mempublikasikan artikel hasil penelitian, kajian teoritis, dan praktik lapangan yang berfokus pada isu-isu kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan inklusi sosial dalam berbagai konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Jurnal ini dikelola oleh tim editorial yang terdiri dari Editor-in-Chief, Managing Editor, serta anggota dewan editor dan mitra bestari yang berasal dari kalangan akademisi, peneliti, dan praktisi yang kompeten di bidang gender dan inklusi sosial. </p> https://ejurnal.uwp.ac.id/gesi/index.php/jurnalgesi/article/view/192 BELAJAR TANPA MENYERAH: HUBUNGAN RESILIENSI DENGAN MOTIVASI AKADEMIK SISWA 2025-10-10T10:24:14-07:00 Maylani Cahya Fitriyani [email protected] Nia Nurcahyani [email protected] Azizah Dian Sholikhah [email protected] Destama Chanif Maulida [email protected] Fredley Aryananda Nichola [email protected] <p>Resiliensi dan motivasi akademik sangat penting dalam menunjang keberhasilan siswa. Motivasi yang tinggi mendorong siswa untuk mempersiapkan diri dan mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebaliknya, rendahnya resiliensi akademik dapat berkaitan dengan kurangnya motivasi akademik, yang ditandai dengan ketidaksemangatan dan cepat lelah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dengan motivasi akademik siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dari berbagai artikel-artikel jurnal dan sumber ilmiah lain yang relevan. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa dalam konteks pendidikan, setiap siswa perlu memiliki resiliensi pada diri mereka, karena resiliensi yang tinggi dapat membantu siswa untuk tetap termotivasi dalam belajar, meskipun sedang dihadapkan kegagalan, tekanan akademik, maupun hambatan lainnya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa resiliensi merupakan pondasi penting dalam membangun motivasi belajar atau akademik. Semakin tinggi tingkat resiliensi siswa, maka semakin besar pula motivasi belajarnya, karena siswa yang tangguh baik secara mental maupun emosional cenderung lebih gigih dalam mengejar tujuan akademik mereka, pantang menyerah meskipun mengalami kegagalan, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk terus mencoba. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi pendidik dan lembaga pendidikan dalam merancang strategi pembelajaran yang mendukung peningkatan mutu pembelajaran dan pencapaian prestasi akademik, seperti membangun dan mengembangkan resiliensi di kalangan siswa.</p> 2026-05-03T00:00:00-07:00 Copyright (c) 2026 Maylani Cahya Fitriyani, Nia Nurcahyani, Azizah Dian Sholikhah, Destama Chanif Maulida, Fredley Aryananda Nichola https://ejurnal.uwp.ac.id/gesi/index.php/jurnalgesi/article/view/206 EKSTRAKSI, KERJA PERAWATAN, DAN INVISIBILITAS GENDER: KAJIAN FEMINIS INTERSEKSIONAL ATAS PENGELOLAAN SAMPAH SEBAGAI INDUSTRI EKSTRAKTI 2026-03-28T07:40:14-08:00 Juliana Bulan Pertiwi [email protected] Ahmad Ridwan [email protected] Dewien Nabielah Agustin [email protected] <p>Eksploitasi dan ketimpangan gender terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam sektor industri konvensional, tetapi juga dalam praktik pengelolaan lingkungan sehari-hari, seperti pengelolaan sampah. Dalam perspektif feminisme interseksional, pengelolaan sampah dapat dipahami sebagai praktik industri ekstraktif non-material yang bergantung pada kerja perawatan perempuan. Kerja ini dinormalisasi sebagai tanggung jawab domestik, tidak diakui sebagai kerja produktif, dan sering kali luput dari perlindungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengelolaan sampah mereproduksi eksploitasi, invisibilitas gender, dan ketimpangan relasi kuasa terhadap perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif fenomenologis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi, dengan subjek penelitian berupa perempuan yang memiliki pengalaman langsung dalam praktik pengelolaan sampah sehari-hari. Jumlah informan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang, dengan penggalian data dilakukan hingga mencapai kecukupan informasi dan tidak ditemukan variasi pengalaman baru yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kerja perawatan perempuan menjadi fondasi utama keberlangsungan sistem pengelolaan sampah, namun dinormalisasi dan tidak diakui secara sosial maupun ekonomi; (2) terdapat ketimpangan relasi kuasa antara perempuan sebagai pelaksana kerja perawatan dan aktor institusional sebagai pengendali kebijakan; serta (3) perempuan mengalami dampak sosial dan psikologis berupa tekanan moral, kelelahan emosional, dan stigma sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya mengekstraksi sumber daya material, tetapi juga mengekstraksi waktu, tenaga, dan kesejahteraan sosial perempuan. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis pengelolaan sampah sebagai industri ekstraktif melalui perspektif feminisme interseksional dengan pendekatan fenomenologi.</p> 2026-05-03T00:00:00-07:00 Copyright (c) 2026 Juliana Bulan Pertiwi, Ahmad Ridwan, Dewien Nabielah Agustin https://ejurnal.uwp.ac.id/gesi/index.php/jurnalgesi/article/view/212 Gugatan Maskulinitas: Analisis Stigma Sosial dan Hambatan Pelaporan KDRT Suami dalam Perspektif Hukum Keluarga 2026-03-28T09:42:58-08:00 Vina Rahmawati [email protected] <p>Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) mengusung prinsip netralitas gender, namun realitas <em>law in action</em> menunjukkan adanya hambatan substantif bagi korban laki-laki dalam mengakses keadilan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manifestasi stigma sosial terhadap suami korban KDRT di media sosial dan implikasinya terhadap efektivitas implementasi UU PKDRT. Dengan menggunakan pendekatan yuridis-sosiologis dan metode netnografi, peneliti mengumpulkan dan menganalisis 80 unit komentar pada platform Instagram dan TikTok periode postingan Desember 2024-Januari 2025 melalui teknik <em>purposive sampling</em>. Hasil penelitian mengidentifikasi empat kategori stigma utama: ejekan dan devaluasi maskulinitas, <em>victim blaming</em>, penolakan status korban, serta stigma sosial-hukum. Temuan penelitian menunjukkan bahwa stigma digital tersebut berfungsi sebagai instrumen "gugatan maskulinitas" yang menciptakan viktimisasi ganda (<em>double victimization</em>) dan kekerasan simbolik bagi korban. Secara yuridis, fenomena ini mengindikasikan potensi disfungsi pada Pasal 10, 18, 19, dan 55 UU PKDRT, di mana hak perlindungan dan pemulihan korban menjadi tidak teraktivasi akibat hambatan psikososial dan bias diskresi aparat yang terhegemoni oleh maskulinitas patriarki. Penelitian ini merekomendasikan reorientasi budaya hukum melalui paradigma Hukum Progresif dan penguatan literasi digital guna meruntuhkan stigma yang menghambat <em>access to justice</em> bagi penyintas laki-laki.</p> 2026-04-13T00:00:00-07:00 Copyright (c) 2026 Vina Rahmawati https://ejurnal.uwp.ac.id/gesi/index.php/jurnalgesi/article/view/195 PERLINDUNGAN HUKUM BAGI ANAK DALAM PERKAWINAN TIDAK TERCATAT KUA 2025-10-10T10:58:20-07:00 Ratih Dewi Fortuna [email protected] Akhmad Saifudin [email protected] Muhamad Chaidar [email protected] <p>Perkawinan yang tidak dicatat secara resmi di kantor urusan agama (KUA) menimbulkan berbagai konsekuensi hukum, terutama bagi anak yang lahir dari perkawinan tersebut. Anak dari perkawinan tidak tercatat seringkali menghadapi tidak jelasan status hukum, termasuk dalam hal hak waris, akta kelahiran, dan perlindungan hukum secara umum. Artikel ini bertujuan mengkaji perlindungan hukum terhadap anak yang lahir dari perkawinan tidak tercatat di KUA berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, seperti undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, perlindungan anak, serta putusan mahkamah konstitusi nomor 46/PUU-VIII/2010. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (<em>statute approach</em>), pendekatan konseptual (<em>conceptual approach</em>), dan pendekatan sosiologis untuk menganalisis perlindungan hukum bagi anak yang lahir dari perkawinan tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA). Teknik pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi kepustakaan dengan menelusuri, mengidentifikasi, dan menginventarisasi berbagai literatur yang relevan dengan topik penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun anak dari perkawinan tidak tercatat tetap memiliki perlindungan hukum, namun implementasi hak-hak tersebut seringkali terhambat oleh status perkawinan orang tua yang tidak diakui secara administratif. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif negara dalam memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi anak-anak dalam kondisi tersebut.</p> 2026-05-03T00:00:00-07:00 Copyright (c) 2026 Ratih Dewi Fortuna, Akhmad Saifudin, Muhamad Chaidar https://ejurnal.uwp.ac.id/gesi/index.php/jurnalgesi/article/view/211 Triple Minority dalam Ruang Patriarki: Gendered Leadership Sherly Tjoanda sebagai Gubernur Maluku Utara 2026-03-28T09:37:26-08:00 Bella Saidah Hoerul Nisa [email protected] Shezy Solevina Putri [email protected] Ika Arinia Indriyany [email protected] <p>Kepemimpinan perempuan di Indonesia masih menghadapi hambatan struktural patriarki yang kuat, tercermin dari keterlibatan perempuan sebagai calon kepala daerah di Pilkada 2024 hanya mencapai 5,14%. Di tengah lanskap tersebut, Sherly Tjoanda sebagai Gubernur Maluku Utara menyandang status <em>triple minority</em> di tengah ruang patriarki dan sosioreligius yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengkaji manifestasi gendered leadership dalam praktik kepemimpinan Sherly Tjoanda sebagai triple minority. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dari Creswell dengan teori Gendered Leadership dari Judy B. Rosener. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat indikator <em>interactive leadership</em> dalam <em>gendered leadership</em> memiliki keterikatan yang saling menguatkan. <em>Encouraging participation</em> termanifestasi melalui konsistensi dialogis, sementara <em>sharing power and information</em> dilakukan melalui transformasi media sosial dan transparansi anggaran. <em>Enhancing others self-worth</em> terbukti dalam kebijakan beasiswa, kesehatan, dan pemberdayaan UMKM, serta <em>energizing others</em> melalui narasi “Maluku Utara Bangkit”. Kepemimpinan interaktif ini berhasil meningkatkan IPM sebesar 0,95% dan tingkat kepuasan publik mencapai 85,1% dalam satu tahun. Disimpulkan bahwa Sherly Tjoanda berhasil menavigasi ruang patriarki dan sosioreligius melalui aksi nyata yang memperkuat legitimasi publiknya. Keberhasilan ini membuktikan bahwa latar belakang minoritas bukan penghalang bagi efektivitas kepemimpinan di ruang publik yang maskulin.</p> 2026-04-13T00:00:00-07:00 Copyright (c) 2026 Bella Saidah Hoerul Nisa, Shezy Solevina Putri, Ika Arinia Indriyany https://ejurnal.uwp.ac.id/gesi/index.php/jurnalgesi/article/view/213 Toxic Masculinity dalam Konstruksi Sosial: Dekonstruksi Emosi Laki-Laki dalam Perspektif Gender 2026-04-09T08:31:29-07:00 Justin Raja Guk Guk [email protected] Defitri Purba [email protected] Layla Mutiara [email protected] <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi <em>toxic masculinity</em> dalam membentuk pemahaman dan ekspresi emosi laki-laki, serta mengkaji proses dekonstruksi emosi tersebut dalam perspektif gender. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi literatur sistematis. Data diperoleh melalui teknik <em>purposive sampling</em> dari berbagai sumber sekunder berupa jurnal ilmiah, buku akademik, dan laporan penelitian yang relevan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Analisis data dilakukan menggunakan <em>thematic analysis</em> melalui tahapan reduksi data, pengelompokan tema, interpretasi, dan penarikan kesimpulan.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>toxic masculinity</em> merupakan konstruksi sosial yang terbentuk melalui proses sosialisasi dan budaya patriarki yang menekankan dominasi, kontrol, serta penekanan emosi pada laki-laki. Konstruksi ini berdampak pada pembatasan ekspresi emosional, tekanan psikologis, serta munculnya berbagai masalah kesehatan mental. Selain itu, ditemukan adanya proses dekonstruksi emosi laki-laki yang menunjukkan bahwa maskulinitas bersifat dinamis dan dapat dinegosiasikan. Perspektif gender menegaskan bahwa ekspresi emosi bukan merupakan kodrat biologis, melainkan hasil konstruksi sosial yang dapat dikritisi. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam kajian gender dengan menempatkan maskulinitas sebagai pengalaman emosional yang kompleks dan dinamis, serta memberikan implikasi praktis dalam menciptakan ruang sosial yang lebih inklusif bagi laki-laki dalam mengekspresikan emosi tanpa stigma.</p> 2026-05-20T00:00:00-07:00 Copyright (c) 2026 Justin Raja Guk Guk, Defitri Purba, Layla Mutiara